Lidah Wajah dan Tingkah

Oleh : admin
Dalam pelajaran manajemen kepepimpinan jawa dikenal istilah ”jinaganing ilat, ulat, ulah mrih tansah asah, asih lan asuh”. Dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia istilah tersebut mungkin bermakna lidah, wajah dan tingkah yang harus selalu diperhatikan dan dijaga oleh seorang pemimpin untuk selalu mampu mencerdaskan, mensejahterakan dan melindungi.

Karena setiap pemimpin selalu menjadi pusat perhatian, didengar dan diikuti, maka sangatlah tepat bahwa seorang pemimpin harus menjaga lidah wajah dan tingkahnya. Menjaga lidah menurut manajemen kepemimpinan jawa dikenal ”sabda pandhita ratu raja tan kena wola-wali”. Beberapa orang terkadang hanya menyampaikan terpotong yaitu ”sabda pandhita ratu raja” yang kemudian dimaknai sebagai setiap ucapan pemimpin harus diikuti atau dipatuhi.

Yang sebenarnya nasehat ”sabda pandhita ratu raja” lebih diperuntukkan pada sang ratu dan raja, dimana kata yang mengikuti adalah ”tan kena wola wali” yang artinya tidak boleh berganti ganti. Jadi ketika lidah seorang pemimpin sudah berucap maka tidak boleh berganti atau pantang menjilat lidah kembali. Dari sinilah seorang pemimpin harus hati hati dan menjaga ucapannya sehingga apa yang sudah diucapkan tidak akan ditarik kembali atau dibatalkan keputusan yang telah dibuat.

Dalam hal menjaga ”ulat” atau wajah, seorang pemimpin harus selalu tampul baik dan membaikkan, yang mengandung makna seorang pemimpin harus mampu menyimpan perasaannya untuk tidak berlebihan tersirat sari raut wajah. Kematangan sosok pemimpin salah satunya adalah selalu menampilkan wajah berseri tanang dan penuh kewibawaan. Dalam kalut tidak cemberut, dalam marah tidak memerah, dalam perih tidah bersedih, dalam capek tidak tampak lembek. Ini sangat diperlukan karena peran pemimpin yang harus mampu sebagai pelindung yang baik. Dengan wajah yang selalu berseri, maka pemimpin akan mampu memberikan ketenangan bagi mereka yang dipimpin.

Tingkah atau perilaku seorang pemimpin sungguh akan menjadi panutan dan contoh bagi pengikunya. Perilaku yang tidak baik akan menghancurkan dirinya dan atau bisa juga menjadikan pembenaran bagi para pengikutnya untuk menganggap perilakunya adalah benar karena hal itupun dilakukan oleh pemimpinnya.

Sungguh kita harus mampu menjaga ” ILAT   ULAT   ULAH” untuk menjadi pemimpin yang berharga dan dihargai, setidaknya pemimpin untuk keluarga….

Dipubliksikan pada 28/12/2010

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Anakku Belajar Politik dari TV

Anakku Belajar Politik dari TV

Obrolan Malam minggu (17/11) dengan anakku, Suryo Sekar Pratiwi yang belum genap 12 tahun menjadi obrolan politik pertama kali yang menarik dengannya.

Bermula dari duduk di ruang keluarga nonton TV chanel RCTI pukul 17:00, kebetulan acara kuis kebangsaan WIN HT. Sudah lama nggak nonton, maka jadilah obroran dengan Suryo Sekar Pratiwi yang  masih kelas 6 SD.

Ojek GOWES Trans Jakarta Untuk Jakarta Go Green

Ojek GOWES Trans Jakarta Untuk Jakarta Go Green

Dengan catatan khusus dalam hal jarak tempuh yang melelahkan dari shulter ke titik tujuan, maka di beberapa tempat telah dijadikan peluang oleh ojek (sepeda motor). Menjadi catatan tersendiri dan menarik adalah ketika tersedia ojek sepeda angin (Gowes) yang dalam hal penataan mereka diberikan jalur khusus.